Analisis Film Horor Korea "EXHUMA"


Menganalisis Film Horor Korea "EXHUMA" Karya Jang Jae Hyun

Film merupakan salah satu bidang yang relevan bagi kajian semiotika. Film adalah salah satu yang dihasilkan dari gambar-gambar bergerak yang disatukan. Di dalam film  juga memiliki tanda-tanda Seperti yang dikemukakan oleh Art Van Zoest, film dibangun dengan tanda–tanda semata. Tanda–tanda itu termasuk berbagai sistem tanda yang bekerjasama dengan baik untuk mencapai efek yang diharapkan. Berbeda dengan tanda–tanda fotografi statis, rangkaian tanda dalam film menciptakan imajinasi atau sistem penandaan. Pada film digunakan tanda–tanda ikonis yaitu tanda–tanda yang menggambarkan seseuatu. Gambar yang dinamis pada sebuah film merupakan ikonis bagi realitas yang dinotasikannya.

Analisis semiotik berupaya menemukan makna tanda termasuk hal – hal yang tersembunyi dibalik sebuah tanda (teks, iklan, berita). Karena sistem tanda sifatnya sangat kontekstual dan bergantung pada pengguna tanda tersebut. Pemikiran pengguna tanda merupakan hasil pengaruh dari berbagai konstruksi sosial di mana pengguna tanda tersebut berada.

Di dalam salah satu karya film Jang Jae Hyun yang berasal dari korea selatan berjudul Exhuma, film ini menceritakan tentang keluarga kaya raya (Park) secara turun menurun selalu diganggu oleh makhluk halus dimana keluarga itu meminta bantuan kepada dua dukun yang terkenal bernama Hwa-Rim yang diperankan oleh Kim Go Eun dan Bong-Gil yang di perankan oleh Lee Do Hyun, bersama dengan ahli fengshui bernama Kim Sang Doek ahli fengshui dan Yong Geun petugas pemakaman untuk menelusuri leluhurnya dengan menggali makam dan yang terjadi dibawah makam leluhur keluarga kaya raya (Park) terdapat makam misterius dengan posisi vertikal yang dipercaya merupakan pasak besi. Nah didalam film Exhuma ini memiliki banyak teori teori rahasia didalamnya, ideologi dari kedua negara, dan dengan menangkat tema okultisme yang dikemas menjadi horror thriller membuat para penonton merasakan ketegangan pada saat menontonnya.

Alasan saya mengangkat analisis film exhuma karena difilm tersebut menyoroti satu budaya lokal yang ada dikorea dan sangat mirip dengan budaya yang ada di indonesia seperti kejawen adanya dukun mengusir roh roh jahat dan saya pribadi ketika menonton film tersebut seperti ikut menulusuri misteri misteri itu, selanjutnya alasan saya menganalisis karya film exhuma adalah karena beberapa teori yang ada didalam film tersebut masih belum terpecahkan, serta adanya hubungan dengan dua negara, yaitu Negara Jepang dan Semenanjung Korea, pada zaman dahulunya.



Analilsis Film Exhuma

Film Exhuma yang baru saja rilis dilayar lebar pada tahun 2024. Terhitung sejak awal April penonton menembus angka 11 juta. Keberhasilan ini menjadikan film Exhuma sebagai film horor yang mendapatkan perhatian penuh bagi pencinta Horor dan Misteri serta mendapatkan salah satu film horor yang direkomendasikan oleh Sutradara Joko Anwar.

Film Ini diperankan oleh Kim Go-eun (Hwa-rim), Lee Dohyun (Bong-Gil) mereka memerankan karakter dukun terkenal, Choi Min Sik (Kim Sang Deok) memerankan karakter ahli fengshui, dan Yoo Hae-jin (Young Eun) memerankan karakter petugas pemakaman. FIm Exhuma bergendre Horor Thriller dan Mistis.

Judul "Exhuma" diambil dari kata bahasa inggris yaitu Exhumation yang artinya penggalian, dan Exhuma juga mengartikan kebangkitan iblis yang memiliki dendam dan kekuatan supranatural.

Exhuma menceritakan sekelompok ahli supranatural mendapatkan tawaran pekerjaan dari keluarga berpengaruh dan kaya raya di korea untuk memindahkan makam leluhurnya karena sejak turun menurun mendapatkan gangguan supranatural. pada saat pembokaran makam dukun Hwa-rim dan Bong-gil melakukan ritual ritual dengan beberapa sajian seperti buah, kue kue khas korea, ayam hidup, dan daging babi dengan diringi dengan lantunan ayat dikitab buddha serta tabuhan gendang. 

Akting disetiap karakternya sangat profesional mulai dari pendalaman karakter, mimik muka, sampai gerakan tubuh yang begitu detail. Seperti halnya Kim Go Eun belajar dan mendalami karakternya ke dukun asli.

Dalam film exhuma memiliki 2 plot berbeda, yang pertama pembongkaran peti kakek buyut keluarga kaya raya (park)
yang dimana leluhur ini meneror generasinya untuk meminta bantuan pemindahan makamnya, karena terlalu lama roh kakek buyut ini menjadi roh pendendam dan mencoba untuk membunuh generasi turun menurunya.
 
Selanjutnya plot kedua menceritakan makam misterius yang di kubur secara vertikal dimana ternayata makam itu adalah makam jendral bernama Shogun yang dieksekusi mati dan tubuhnya dimasuki pasak besi, plot kali ini lebih banyak menceritakan kisah sejarah kelam pada masa kekaisaran jepamg dan korea. 

Dalam Film tersebut memiliki atmosfer yang menegangkan dalam memecahkan kasus misteri disetiap pemainnya, namum ketika berganti plot agak sedikit membingungkan diawal karena terdapat simbol simbol yang perlu adanya fakta dalam teori.

Penggabungan berbagai elemen seperti cerita rakyat Korea Selatan, paranormal, mistis, kepercayaan feng shui, ritual syamanisme, hingga sikap skeptis dari keturunan keluarga kaya raya (Park) yang hidup di zaman modern ini. Semua unsur itulah menyatu dalam cerita exhuma diamana mengandung unsur politik, terutama sejarah kolonialisme Jepang di Korea.
 
Dalam endingnya memiliki plot twist yang mengejutkan dimana dalang dibalik cerita tersebut adalah seoarang Biksu Gisune.
Biksu Gisune/kisune digambarakan sebagai siluman rubah licik yang menyamar menjadi biksu sakti, sudah hidup sejak zaman kekaisaran, ia mengadakan ritual dan menjadikan jendral tersebut sebagai media pasak.

Analisis Semiotika Pada Film Exhuma

1. Pasak Besi

Dalam Scene kilas balik yang menampilkan dimana dulunya seorang jendral (shogun) dieksekusi mati dengan memenggal kepala dan memasukan pasak besi berukuran besar kedalam tubuhnya oleh Biksu Gisune lalu menguburkan ketanah secara vertikal. bebarap teori mengatakan bahwasanya pasak besi merupakan invesi fengshui atau membawa kesialan, kutukan, serta energi negatif pada Negara Korea.

2. Pagoda (Patung Budha)

Dalam scene siluman jendral melihat pagoda dan melarikan diri, dimaknai bahwasanya Siluman Jendral (Shogun) menganut Bushido Buddhis dan pagoda itu adalah sebuah batasan suci antara alam manusia dengan alam gaib dan diibaratkan siluman jendral ini menghormati pagoda tersebut dengan membacakan latunan sutra dan menghilang atau kembali ke makam tersebut

3. Ular Berkepala Manusia

Dalam Scene Usai ritual pembongkaran makam keluarga kaya raya (park) dan berhasil dipindahkan ada sebuah tragedi yang muncul setelah kepergiaan mereka, yaitu salah satu penggali kubur menyadari keberadaan seekor ular berkepala perempuan dari dalam tanah. Secara spontan ia langsung membunuh ular tersebut hingga terdengar suara jeritan melengking. Setelah kejadian itu penggali kubur mengalami demam tinggi yang mengancam nyawanya. Dipercaya dalam mitologi Jepang ular tersebut adalah sosok bernama yokai Nure Onna yang menyerupai makhluk reptil berkepala manusia/wanita dan berbadan tubuh mirip ular dan memberikan simbolis penjagaan makam siluman jendral (shogun) dan kebangkitan iblis dari makam seorang jenderal yang dikubur hidup-hidup.
4. Melon dan Ikan

Dalam Scene siluman jendral bertanya kepada Hwa-rim "apakah kamu manusia?" dan bertanya lagi "apakah kamu menyiapkan melon dan juga ikan?". Beberapa teori mengatakan bahwasanya makna dari kalimat Melon dan Ikan ini adalah sebuah kalimat jebakan apakah hwa-rim ini pelayan dari siluman tersebut dan dimaknai kata melon sebagai tentara timur sedangkan kata Ikan dimaknai dengan tentara jepang yang memasuki semenanjung korea.

5. The Destiny Hast Change

Dalam Scene usai mengkremasi jenazah leluhur kueluarga kaya raya (park), Kim Sang Doek atau dikenal ahli fengshui melakukan perjalanan ke arah rumah si Tukang Gali yang membunuh ular berkepala manusia, pada saat diperjalanan google maps yang ia lihat menunjukan arah menggunakan audio/suara "The Destiny Hast Change". Beberapa Teori Mengatakan Tujuan utama dalam film ini adalah menyelesaikan masalah keluarga kaya raya (park), namun mereka mengubah tujuannya kepada Siluman Jendral atau si Pasak Besi.

6. Rubah Dan Harimau

Dalam Scene Ayah si bayi yang kerasukan dan mengatakan "Rubah melukai punggung Harimau". Dalam narasi di atas rubah disimbolkan dengan penjaga makam pasak besi yang dikubur oleh Jepang bernama Gisune atau dalam bahasa jepang kitsune (rubah). Sedangkan harimau di sini merupakan bentuk peta Korea yang menggambarkan semenanjung yang mirip dengan harimau. 
Selain itu teori lainnya mengatakan dalam budaya Korea harimau memiliki makna simbolis yaitu sebagai penjaga yang mengusir roh jahat dan makhluk suci yang membawa keberuntungan – simbol keberanian dan kekuatan absolut. Bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan Korea, harimau dianggap sebagai simbol Roh Gunung atau Raja binatang gunung.

7. Kode Angka 38.3417,128.3289

Dalam Scene Bong-Gil kerasukan roh lain dikamar hotel dan mengatakan kode angka 38.3417,128.3289. Kode angka tersebut dimaknai dengan titik koordinat sebuah daerah, ada Teori mengatakan titik koordinat tersebut merupakan daerah tempat pasak besi itu berada,dan menjadikan semenanjung korea terbagi menjadi dua yaitu Korea Selatan dan Korea Utara. Hal tersebut ada kaitannya dengan kalimat rubah melukai punggung harimau.

8. Tato ditubuh Bong-Gil

Karakter Bong-Gil yang merupakan dukun pemula memiliki ukiran tato diseluruh tubuhnya, ukiran itu juga terlihat dalam karakter Hwa-rim, Kim Sang Deok dan Young Geun pada saat menghadapi Siluman Jendral yang bertuliskan menggunakan aksara tiongkok. Tato tersebut merupakan Tae-eul-bo-gyeong, merupakan kitab yang ditulis oleh Biksu Buddha yang dipercaya sebagai pelindung diri dan pengsuir roh roh jahat.

9. Serigala di Pemakaman

Dalam adegan menuju ke tempat pemakaman keluarga kaya raya (park), Hwa-rim tiba-tiba menyadari keberadaan serigala. Hal ini menandakan bahwa serigala tersebut adalah makhluk gaib yang berada di sekitar makam, menjadi pertanda buruk bagi mereka. Area pemakaman keluarga Park dianggap sebagai tempat yang terkutuk, tersembunyi di dalamnya adalah makam dengan pasak besi yang tak terlihat. Sang Deok spontan menolak tugas tersebut setelah menyaksikan serigala gaib dan mencicipi tanah makam yang hendak digali.



Kesimpulan 

Jadi Kesimpulannya dalam menganalisi semiotika dalam film "Exhuma" yang disutradarai oleh Jang Jae Hyun, film tersebut mengubah konteks semiotika dengan mengeksplorasi penggunaan tanda tanda dan simbol dalam narasi difilm ini. Dengan melalui analisis berbagai elemen semiotik seperti tanda-tanda ikonik, ritual, dan simbol budaya, film ini menghadirkan interaksi kompleks antara makna yang tersembunyi dan konteks sejarah. dan didqlamnya terdapat penggabungan film ini dengan budaya lokal Korea, tema okultisme, dan teori yang belum terselesaikan yang terkait dengan sejarah Jepang dan Semenanjung Korea yang menggaris bawahi narasi yang begiu rumit didalam alur ceritanya.

Keterkaitan film exhuma dengan pengalaman hidup saya. Bahwasanya pribadi diri saya sendiri percaya akan adanya gangguan dari makhluk spiritual dan ritual ritual budaya lokal. Pandangan saya terhadap film ini menggambarkan hubungan jepang dan semenanjung Korea dan didalam film tersebut negara jepang adalah orang dibalik kehancuran korea karena adanya keberadaan pasak besi tersebut.

Apakah benar begitu?

link Official Trailer:








Komentar

Postingan Populer